September Tidak Ceria, Akankah Resesi 99 Persen di Depan Mata?

September 2020 ini kemungkinan Indonesia tidak lagi ceria karena diprediksi memasuki masa resesi ekonomi akibat pandemi corona atau Covid 19. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan HAM (Menkopolhukam) Mahfud MD menyatakan, Indonesia dipastikan tidak akan mengalami krisis ekonomi meski resesi. "Bulan depan hampir dapat dipastikan 99,9 persen akan terjadi resesi ekonomi di Indonesia," kata Mahfud MD, Minggu (30/8/2020).

Namun pada hari yang sama, Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kunci mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 adalah kompak, bekerja sama, semangat inovasi, dan menjaga optimisme. Luhut menjelaskan, ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi kuartal III hampir 0 persen, bahkan juga minus hingga berujung jurang resesi karena kuartal sebelumnya minus 5,32 persen. "Kita juga jangan takut takuti kalau sampai negatif kuartal III ini. Kita berjuang sekuatnya sehingga nanti kuartal III (pertumbuhan ekonomi) bisa dekat 0 persen atau mungkin minus 0 koma sekian," ujar Luhut.

Sebelum menelaah angka kemungkinan 99 persen tersebut, lantas apa yang dimaksud dengan resesi? Dilansir oleh Forbes, pada 1974, ekonom Julius Shiskin mendefinisikan resesi ekonomi sebagai penurunan produk domestik bruto (PDB) yang terjadi selama dua kuartal berturut turut. Resesi dapat terjadi karena penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung selama berbulan bulan atau bahkan bertahun tahun.

Sementara para ahli menyatakan, resesi artinya ketika suatu negara mengalami PDB negatif, kenaikan tingkat pengangguran, penurunan penjualan ritel, dan kontraksi di pendapatan manufaktur untuk periode waktu yang panjang. Resesi dianggap sebagai bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis atau dalam ekonomi suatu negara. Kemudian, Biro Riset Ekonomi Nasional (NBER), otoritas yang dipercaya menentukan mulai dan berakhirnya resesi di Amerika Serikat (AS), mengartikan resesi sebagai penurunan signifikan dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa bulan.

Biasanya, terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan ritel. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) langsung memberikan tanggapan atas pernyataan kedua menko dibawahnya itu. Menurut Presiden, masih ada waktu sampai akhir bulan September untuk menyelamatkan Indonesia dari jurang resesi.

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat memberikan arahan kepada para Gubernur menghadapi pandemi Covid 19 dan pemulihan ekonomi Nasional melalui siaran YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (1/9/2020). "Untuk itu, kuartal III yang kita ini masih punya waktu 1 bulan yaitu Juli Agustus September, kita masih punya kesempatan di bulan September ini," kata Jokowi. "Kalau kita masih berada pada posisi minus, artinya kita masuk ke resesi," tambahnya.

Sementara itu, Pengamat Ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai Bantuan Subsidi Upah (BSU) harus dipercepat untuk menghindari terjadi resesi ekonomi di kuartal III 2020. Menurutnya, realisasi BSU bisa meningkatkan daya beli pekerja dan mendukung peningkatan konsumsi agregat sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi positif. "Dengan mengeksekusi BSU, kartu prakerja, bantuan usaha mikro, serta bantuan sosial lainnya serta masyarakat menengah ke atas mau belanja (tidak menahan uang) maka pertumbuahan ekonomi di kuartal III 2020 bisa menjadi positif. Walaupun Bu menkeu memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal III sekitar minus 2 persen sampai nol," kata Timboel kepada wartawan, Kamis (3/9/2020).

Menko bidang perekonomian masih optimistis Disisi lain, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah terus melihat secara teliti perekonomian Indonesia kedepan, apakah krisis ekonomi akibat resesi itu terjadi atau tidak. Menurutnya, perhitungan kemungkinan Indonesia resesi bisa dihitung dari kuartal ke kuartal hingga ujungnya menutup akhir 2020.

Sekadar informasi, meski pada masa pandemi kali ini belum resmi resesi, Indonesia pernah mengalaminya pada 1998. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, perekonomian RI masih tumbuh positif 3,4 persen pada kuartal III 1997 dan 0 persen kuartal IV 1997. Lalu terus turun tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998.

Jadi, semoga kejadian 20 tahun lebih lalu tidak berulang lagi tahun ini dan ekonomi Indonesia tetap bisa tumbuh positif sesuai pernyataan Menko Airlangga tersebut

Related Posts